Nikmatnya Menjadi Seorang Santri Bagian Pertama

 

 

pesantren,tulungagung,pengalaman
Ponpes Menara Alfattah Tulungagung Instagram.com/pondokmenoro

Pesantren

Pada tahun 2014 sekitar bulan November di minggu terakhir pertama kalinya aku mulai menjajaki dunia pesantren. kebanyakan orang banyak menganggap dunia pesantren adalah salah satu penjara bagi para anak yang di rasa mempunyai tingkat kenakalan yang tinggi.

Tetapi apa yang banyak orang katakan itu bukanlah sebuah realita yang sebenarnya dalam dunia pesantren, di dalam dunia pesantren banyak sekali orang yang  yang menimba ilmu untuk meningkatkan kualitas kebaragamaanya dan juga untuk meningkatkan atau mengembangkan kualitas kerohanian di daerahnya.

Ternyata yang juga membuatku lebih terkejut adalah orang yang menjadi murid dalam pesantren atau juga bisa di sebut seorang santri tidak hanya seorang remaja bahkan orang yang lebih tua umurnya ya bisa juga di katakan sudah waktunya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan tetapi masih juga setia menjadi seorang santri.

Tak hanya itu juga, ternyata setelah masuk pesantren banyak juga santri yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan ternyata banyak juga yang berasal dari luar daerah seperti Yogyakarta, Riau, Palembang, dan bahkan ada juga yang berasal dari Provinsi Papua loh!.

Nah dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa mindset kebanyakan orang pada suatu objek yaitu pesantren adalah salah kaprah, karena apa dari pengalaman yang aku dapatkan pertama kali masuk pesantren bukanlah pengalaman yang menakutkan melainkan pengalaman yang menyenangkan.

Yang membuatku terkejut yaitu ketika melihat banyak santri-santri sudah senior biasanya banyak juga yang menikah di pondok karena dicarikan pasangan oleh pak yai, kebanyakan santri senior yang di carikan pasangan oleh pak yai adalah santri ndalem atau santri yang mengabdi di rumah pak yai.

 Adaptasi

 

Kedatanganku sebagai pendatang baru dalam dunia pesantren bukanlah hal yang mudah untuk menyesuaikan keadaan, butuh masa adaptasi atau penyesuaian diri yang agak lama. Karena perbedaan karakteristik budaya dan perbedaan cara pandang santri yang berbeda-beda tersebut menyebabkan aku harus memulai bekerja keras untuk beradaptasi.

Pada dasarnya di pesantren tempatku menyantri memberi waktu beberapa hari untuk santri beradabtasi, seperti melihat susasana pesantren dan melihat kegiatan-kegiatan yang di laksanakan oleh para santri.

Banyak juga santri-santri yang kurang bisa beradaptasi keluar dari pesantren, seperti teman nyantri seangkatan denganku yang masuk di hari sama dalam beberapa hari dia memutuskan untuk boyong atau keluar dari pondok karena alasan tidak krasan.

setelah masa adaptasi biasanya santri baru sepertiku di arahkan ke pak yai untuk sowan untuk memberitahu  bahwa ada santri baru yang mau nyantri di pesantren, karena pada awal masuk pesantren para santri baru sepertiku belum di anjurkan untuk sowan kepada pak yai karena ditakutkan setelah sowan ternyata masih belum bisa menyesuaikan diri dan akhirnya keluar dari pondok.

Teman baru

Masa ta’aruf santri

Semangat baru muncul ketika banyak santri baru yang datang untuk tholabul ilmi  disini. Kebanyakan santri baru yang datang adalah orang yang belum mengenal pesantren sepertiku, jadi sebelum mulai pembelajaran aktif di pesantren semua santri baru berkumpul untuk ta’aruf atau perkenalan diri.

kegiatan ini biasanya dilakukan untuk membantu santri baru sepertiku dan lainya segera bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pesantren. Kegiatan ta’aruf tidak hanya di kumpulkan bersama untuk saling berbicara dan mengenalkan diri

namun juga melakukan kegiatan olahraga bersama, sepert bermain volly dan sepak takraw. kegiatan olahraga wajib di ikuti untuk semua santri, selain untuk menjaga kebugaran jasmani bisa juga memudahkan pengenalan antara santri yang baru dan santri lama.

Setelah acara tersebut aku banyak berbincang-bincang dengan santi yang sudah senior dan santri-santri yang masih baru. Setelah berbincang banyak tentang seluk beluk pondok pesantren menara yang sekarang aku tempati.

Setelah kegiatan ta’aruf santri para santri-santri senior dan baru pun berkumpul di auala untuk membahas kegiatan mingguan dan bulanan, seperti rutinan setiap malam kamis ada kajian dan kegiatan wajib lainya, di hari jumat ada wajib kerja bakti dan setiap awal bulan di malam kamis mengadakan rutinan sholawat bersama jamaah pondok yang tidak bermukim.

Banyak penjelasan panjang lebar yang di utarakan para santri lama kepada santri baru dari peraturan awal sampai habis tak takziran atau hukuman bagi yang melanggar.

Seiring diskusi para santri semakin lama menyenangkan para santri senior banyak menceritakan tentang pengalaman-pengalaman seru yang di lakukan saat kegiatan pondok, seperti saat santri memperingati hari kemerdekaan mereka juga mengadakan lomba-lomba seperti balap karung, bawa kelereng dan masih banyak lainya.

Setelah acara selesai kegiatan ta’aruf santri dan diskusi santri di tutup dengan makan bersama khas ala santri dengan makan di satu nampan bersama, selain untuk menambahkan keakraban para santri makan satu nampan.

cara makan ala santri ini bisa juga untuk meningkatkan rasa solidaritas antar santri dan juga untuk menunjukan bahwa dalam dunia pesantren tidak ada yang di tinggikan semua sama rata dalam mencari ilmu.

acara makan bersama seluruh santri setelah kegiatan selesai instagram.com/pondokmenoro

 

Teman sekamar seperjuangan

Abdan Wafiq

Setelah acara selesai akupun kembali ke kamar disana ternyata ada tiga santri yang ternyata tadi belum sempat untuk berkenalan.

ada tiga santri baru dan satu santri senior yang satu kamar dengan ku yaitu Abdan wafiq,Yan azmi arizanur ,Ilham abdirahhman dan fuatul muchlis panggilan mereka adalah Afiq,Riza,Ilham, dan kang fuat. Disitu kami mulai berbincang-bincang mulai dari rumah, alasan untuk ikut pendidikan pesantren, dan juga pengalaman pribadi lainya.

Dua temanku Afiq dan Riza berasal dari Kediri dimana daerah tersebut terletak di utara Tulungagung. Ternyata rumah mereka berdua dekat dengan rumahku hanya berjarak sekitar 5 km.

Salah satu dari empat santri sekamarku yang masih belum pernah nyantri sama sepertiku adalah Afiq, dulu ketika semasa sekolah dia belum pernah masuk dunia pesantren. Dia becerita bahwa dulu dia adalah seorang siswa MAN tapi belum pernah masuk dunia santri.

Dia berkeinginan untuk belajar agama lebih dalam lagi, banyak pengalaman yang bisa aku dapat darinya seperti dia adalah salah satu aktivis dalam media sosial kaskus.com, masuk dalam sebuah komunitas penyair dan mempunyai pemikiran yang kritis dalam menyikapi sebuah masalah terutama yang menyangkut tentang media.

salah satu argumen yang sangat membuatku terpanah dengan pemikiranya dan membuatku berfikir lebih membuka jendela dunia lebih luas.

Suatu ketika ada  seorang guru menggambarkan sebuah lingkaran di papan tulis diibaratkan sebagai dunia lalu gurupun bertanya kepada semua santri !

Jika lingkaran ini ibarat bumi kamu berada di dimana ?, banyak santripun menjawab dan menandai lingkaran tersebut dengan kapur, tetapi pada saat Afiq di tanya seperti itu dia menjawab :

Saya terlalu kecil tad dan bahkan tidak mungkin untuk digambarkan jika saya di rusuh memilih dimana saya berada jika harus menandai gambar tersebut !.

 

Teman sekamar yang dari Kediri selain Afiq adalah Riza, mereka berdua adalah tetangga bahkan teman main ketika masih kecil, dari SD dan SMP tapi SMA mereka berbeda dilanjutkan pondok satu tempat dan satu kamar, lucu juga ternyata.

temen nyantri,pesantren
Yan Azmi Arizanur dan Ilham Abdirrahman

Riza adalah salah satu santri yang sudah memiliki pengalaman nyantri seblum pindah ke pesantren yang sekarang ini, awal cerita kenapa dia pindah karena dia ingin berkeliling ke pesantren-pesantren unduk menimba ilmu agama. Dari cerita pengalamanya aku sudah mulai sedikit mengerti bagaimana kehidupan pesantren mulai belajar fiqih,nahwu,shorof,hadist, dan ilmu lainya.

Riza seorang santri yang sangat rajin dan rapi telihat dari ketika dia menata baju dan cara berpakaian yang sangat rapi, bisa di jadikan contoh teladan santri yang disiplin dan rapi.

Belum sampai satu hari bertemu dia sudah mengengeluarkan kata-kata bijaknya.

santri yang penting ada semangat belajar dan yang paling penting adalah niat untuk belajar tidak usah muluk-muluk ingin ini ingin itu yang ada dijalani dulu dan dimaksimalkan.

Ada satu lagi teman santri baru dari kota Trenggalek. Ia bernama Ilham yang katanya suka bernyanyi dan menyair, karena dia suka bernyanyi dulu dia sebelum pindah ke Tulungagung ke nyantri dari daerahnya dia menjadi seorang vokal pada group sholawat.

saking pinternya tarik suara pada saat masa ta’aruf santri dia maju untuk menjadi pembaca Al Quran di depan dan juga saat diskusi santri dia di amanati sebagai salah satu vokal di group sholawat milik pesantren.

bukan hanya dalam tarik suara saja dia juga bisa memainkan alat musik hadrah bahkan sangat mahir, dia bercerita kalau dulu ketika dirumah dia sering mengikuti kegiatan hadroh bahkan lombapun katanya sering menang juara satu.

Dari awal itu akupun mulai tertatik pada dunia musik hadroh karena sekelibat secerita dari teman sekamarku ini, satu kata yang masih aku ingat dan membuatku terpacu untuk meningkatkan kreativitas sebagai santri baru adalah

santri itu harus penuh dengan karya, karena apa ? kalau tanpa karya semua orang bisa saja bilang menjadi santri lantas apa kalau bukan karya yang membedakanya ??

 

teman nyantri,sekamar
kang Fuatul Muchlis

Dan terakhir dia adalah santri senior Fuatul Muchlis berasal dari kota Blitar sudah 5 tahun menjadi santri di Ponpes Menara Alfattah Tulungagung, dia salah satu santri yang dianggap berwibawa karena sering maju dalam acara perumusan masalah antar pesantren.

Karena konon katanya kang Fuat adalah salah satu mahasiswa dengan jurusa Ilmu Al Quran dan Tafsir di salah satu perguruan negeri di Indonesia, tak ayal kang fuat sering meneliti tafsir-tafsir untuk menambah referensi santri maupun untuk membantu kegiatan pesantren.

karena kang Fuat adalah santri senior dan juga pintar dalam bidangnya pada malam itu kami pun memutuskan untuk merutinkan belajar bersama tentang tafsir mulai ketika kegiatan semua santri lama maupun santri baru berlangsung.

kata terakhir dari kang fuat sebelum mengakhiri perbincangan kami

pada dasarnya prinsip seorang santri adalah belajar ilmu agama dan mengabdi kepada agama dan negara, jangan sampai mencemarkan nama pesantren, mengecewakan para guru dan pak yai

Kesimpulan bagian pertama

Jangan berfikir buruk sebelum melihat sesuatu yang belum tentu kebenaranya karena bisa menimbulkan sesuatu yang di inginkan. Rasa haus akan ilmu tidak akan menyurutkan semangat untuk terus belajar terutama ilmu agama.

Pepatah mengatakan tuntutlah ilmu sebannyak mungkin walau tempatnya jauh ke seberang samudra. Jadikan pengalaman seseorang menjadi modal kita untuk mempermudah mencari ilmu.

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “Nikmatnya Menjadi Seorang Santri Bagian Pertama

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.