• 05 Agustus 2015, Api Membakar Lahan Gambut HTR Catur Rahayu
  • 18 Agustus 2015, Api Membakar Lahan Gambut Kebun Sawit PT.KASWARI UNGGUL
  • Lahan gambut HTR Catur Rahayu
  • Pinang dan Exsalsa salah satu tumpuan ekonomi masyarakat Tanjung Jabung Timur

Jambi in Haze Hazard

In two districts (Muaro Jambi dan Tanjabtim) the fire has massively burn down forest area and peatland on Sept 5th 2015, which is approximately over 33 thousand hectares and causes terrible lost accounted 2.6 trillion rupiah. (Based on Bogor Agricultural Institute and WARSI study)

Kanal sumber malapetaka, WKS HTI terbesar di Jambi ikut menyumbang kabut asap

Published on Tuesday, 13 October 2015
Written by Administrator

Kebakaran hutan dan lahan selalu berulang tahun. Dalam catatan WARSI lokasi terjadinya kebakaran juga merupakan tempat yang sama. Bedanya kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 boleh disebut sebagai yang terparah sejak tahun 1997. Dari Analisis Citra Satelit TM 8 tertanggal 5 September 2015 yang dilakukan Divisi Geographic Information System (GIS) Komunitas Konservasi Indonesia WARSI terpantau sudah hampir   33.745 ha kawasan gambut yang terbakar di dua Kabupaten yaitu Tanjung Jabung Timur dan Muara Jambi.  Kebakaran terjadi di kawasan Hutan Tanaman Industri seluas 1.623 milik PT Wira Karya Sakti. Selain di perusahaan ini, kebakaran juga melanda kawasan HPH yaitu Putra Duta Indah Wood, Pesona Belantara dan sejumlah perusahaan perkebunan kepala sawit, lahan masyarakat, tahura serta Taman Nasional Berbak.  

Kebakaran yang melanda gambut Jambi disebabkan oleh penggunaan kanal-kanal gambut untuk mengurangi muka air gambut sehingga bisa ditanami. Kanal ini telah menjadi sumber kehancuran ekosistem gambut. PT WKS  dari 293.812 ha izin konsesi perusahaan yang berada di bawah naungan Sinar Mas Forestry ini, 76.802 ha atau 26 persen di antaranya berada dalam kawasan gambut, bahkan 10.806 ha diantaranya berada pada kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter.

 Melihat trend pengelolaan gambut yang dilakukan termasuk WKS dengan membangun kanal-kanal yang lebar dan dalam, tentu sangat berkontribusi pada keringnya muka air gambut di musim kemarau, sehingga kawasan ini menjadi sangat rentan disambar si jago merah. Dengan kandungan bahan organik tinggi, api sangat mudah menyebar dan menjadi sangat sulit dikendalikan, apalagi kanal-kanal yang ada sudah dalam kondisi kehilangan air.

Dari pantauan yang dilakukan di lapangan terlihat kanal-kanal yang dibangun WKS seperti terdapat di Distrik VII, terlihat kanal sudah kehilangan air. Kondisi ini seharusnya tidak terjadi, jika perusahaan taat dengan aturan yang berlaku untuk tetap mempertahankan muka air gambut. Peraturan pemerintah Nomor 71 tahun 2014, yang mengatur tinggi muka air gambut yang boleh kering hanya 40 cm dari permukaan.  Sebelumnya Menteri Pertanian juga mengeluarkan peraturan Nomor  14 tahun 2009, kanal air ada tiga, yaitu primer: lebar atas 3 – 6 meter dan lebar bawah 1,2 – 1,8 m dengan kedalaman 1,8 – 2,5 m, sekunder lebar atas 1,8 – 2,5 m dan lebar bawah 0,6 – 0,9 m dengan kedalaman 1,2 – 1,8 m dan tersier: lebar atas 1 – 1, 2 m dan lebar bawah 0,5 – 0,6 m dengan kedalaman 0,9  – 1,0 m.    Fakta  di lapangan, lebar dan kedalaman kanal serta tinggi muka air dari tanah melebihi aturan yang ada.  Apalagi belum ada sistem kanal bloking yang diberlakukan, sehingga kehilangan air gambut sangat mudah terjadi, sehingga mudah menimbulkan kebakaran.

Kebakaran hebat yang terjadi di distrik VII menandakan bahwa perusahaan sebesar WKS pun tidak mampu melakukan pencegahan kebakaran hutan di dalam kawasan konsesinya dan ikut menjadi penyumbang kabut asap. Melihat kenyataan ini, sudah sewajarnya aparat terkait melakukan pengusutan terhadap perusahaan yang telah menjadi penyumbang kabut asap dan merugikan banyak pihak. Baik dari kelalaiannya menjaga konsesi dari kebakaran, maupun dampak kebakaran berupa kabut asap yang telah merugikan masyarakat luas.***

 

Kanal WKS

Kanal WKS yang sudah mengering.  Foto diambil ketika di bagian lain kawasan WKS tengah terbakar hebat, sehingga menimbulkan kabut asap.

Kebakaran hutan akasia milik PT WKS di distrik VII.

 

Pemerintah Lamban, kebakaran gambut meluas 33 ribu ha gambut terbakar kerugian mencapai Rp 2,6 T

Published on Monday, 07 September 2015
Written by Administrator

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Jambi terutama di kawasan gambut semakin menggila. Berdasarkan pantauan Citra Satelit TM 8 tertanggal 5 September 205 dan analisis yang dilakukan Divisi Geographic Information System (GIS) Komunitas Konservasi Indonesia WARSI terpantau sudah hampir 33.745 ha kawasan gambut yang terbakar di dua Kabupaten yaitu Tanjung Jabung Timur dan Muara Jambi. Kebakaran terjadi di kawasan Hutan Tanaman Industri seluas 3.089 ha, meliputi lahan PT Wira Karya Sakti dan Diera Hutani Lestari. Kebakaran juga terjadi HPH seluas 5.790 ha, yaitu PT Pesona Belantara Persada dan PT Putra Duta Indah Wood. Selanjutnya kebakaran di kawasan Perkebunan sawit seluas 5.891 ha, meliputi kawasan konsesi milik PT. Agro Tumbuh Gemilang Abadi, PT. Kaswari Unggul, PT. Citra Indo Niaga, PT. Ricky Kurniawan Kertapers, PT. Bara Eka Prima, PT. Era Sakti Wiraforestama, PT. Bumi Andalas, PT. Bina Makmur Bestari dan PT. Puri Hijau Lestari. Selanjutnya kebakaran gambut juga terjadi di Hutan Lindung Gambut seluas 6.196 ha, Areal Penggunaan Lain (APL) 4.734 ha, Tahura Tanjung 1.317 ha, Taman Nasional Berbak 4.803 ha, serta kawasan Hutan Produksi seluas 1.924 ha.

9.149 Ha Gambut Terbakar,Kerugian Rp 716 M

Published on Friday, 28 August 2015
Written by Administrator

Kebakaran hutan dan lahan ternyata kembali berulang tahun. Dari data sebaran titik api yang dihimpun Divisi GIS Komunitas Konservasi Indonesia WARSI sepanjang 2015 (data sampai tanggal 26 Agustus) terdapat 711 titik api dengan konviden level 80 % validasi LAPAN. Jumlah titip api ini terbanyak dibanding tahun sebelumnya dan masih sangat berpotensi untuk terus bertambah mengingat musim kemarau masih berlanjut.

Kebakaran gambut semakin menggila Perlu managemen kanal dan penegakan hukum atasi kebakaran

Published on Wednesday, 19 August 2015
Written by Administrator

Kebakaran di arel kebun sawit PT. KASWARI UNGGUL 19/08/2015 

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai daerah di Provinsi Jambi semakin mengkhawatirkan. Pantauan WARSI kebakaran hebat terjadi di lahan gambut yang ada di Tanjung Jabung Barat dan Timur. Kebakaran hebat terjadi di antaranya di perkebunan sawit PT Kaswari Unggul Kecamatan Dendang Tanjung Jabung Timur. Menurut penuturan masyarakat setempat kebakaran yang terjadi sudah meliputi blok perkebunan 5 blok, yang diperkirakan mencapai luas lebih dari 200 ha. Sebelumnya kebakaran terpantau di perkebunan sawit milik PT ATGA dan sejumlah tempat lainnya di lahan gambut yang menghasilkan kabut asap yang cukup pekat dan mengganggu aktivitas masyarakat. Tak hanya di perkebunan sawit pantauan titik api dari Citra Satelit Terra and Agua NASA 48 jam terakhir juga terjadi kebakaran lahan gambut yang dikelola Perusahaan Hutan Tanaman diantaranya PT Dyera Hutani Lestari dan PT Wira Karya Sakti.

30 Titik Api Terpantau Bersiap Memasuki Musim Asap

Published on Wednesday, 01 July 2015
Written by Administrator

Memasuki bulan kedua musim kemarau titik api sudah bertebaran di hutan dan lahan dalam provinsi Jambi. Berdasarkan pantauan Citra Satelit Terra and Agua NASA pada Senin kemarin terpantau 30 titik api yang tersebar di Tebo, Tanjung Jabung Timur, Muara Jambi dan Batanghari. Di lihat dari sebaran kebakaran hutan mayoritas terjadi di dalam kawasan hutan yaitu kawasan Hutan Produksi terbatas Hulu Sumai sebanyak 7 titik api dan Hutan produksi Pasir Mayang eks PT Daleks 6 titik api. Titik api juga terpantau di HTI PT Lestari Asri Jaya, PT Tebo Multi Agro, PT Rimba Hutani Mas dan PT Limbah Kayu Utama. Sedangkan di Tanjabtim kebakaran hutan dan lahan terjadi dalam kawasan gambut. 

“Jika dilihat dari sebaran titip api yang terpantau kebakaran hutan ini terjadi dalam kawasan perusahaan yang memiliki izin resmi, kemudian dalam kawasan hutan yang terkategori open akses (hutan bekas perusahaan yang sudah dikembalikan ke negara), dan kebakaran pada kawasan kelola masyarakat (APL),” kata Manager Komunikasi KKI WARSI Rudi Syaf. 

Jambi Komitmen Kendalikan Bencana Kebakaran

Published on Monday, 15 June 2015
Written by Administrator

Jambi, yang menduduki peringkat kedua sebagai provinsi penyumbang kebakaran terbanyak di Sumatera setelah Provinsi Riau, mendapatkan tamparan keras dengan jumlah nilai ekonomi yang disebabkan dari dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah gambut. Tingginya angka kerugian ini yang mencapai Rp 19 triliun ini diharapkan membuka mata banyak pihak bahwa bencana kebakaran bukan menjadi sebuah ritual tahunan yang harus dirasakan masyarakat Jambi dan provinisi hingga negara tetangga . Komitmen untuk pengendalian bencana kebakaran ini disampaikan Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Hukum dan Politik, Husni Djamal terkait dengan upaya-upaya nyata yang dilakukan untuk membuat sistem peringatan diri dan upaya penegakan hukum atas pelaku pembakaran, “Dengan melihat banyaknya kerugian yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan gambut ini, saya akan merekomendasikan kepada Gubernur untuk membangun sistem terpadu dalam pengendalian kebaran misalnya dalam bentuk sistem peringatan dini (EWS) dan juga adanya penegakan hukum untuk para pelaku pembakaran ini tidak menutup kemungkinan perusahaan juga bisa dijerat,” tegasnya.

Peatland fires inflict trillions of Rupiah in losses

Published on Tuesday, 21 April 2015
Written by Jon Afrizal, The Jakarta Post, Jambi

The organizers of a study have found that peatland fires in three regencies in Jambi in 2014 caused Rp 44.714 trillion (US$3.4 billion) in losses and have offered to supply an agriculture system to prevent further damage.

The Forestry School of the Bogor Institute of Agriculture (IPB) and the Indonesian Conservation Community (KKI) Warsi recently conducted the Peat Fire Impact Valuation study in West Tanjung Jabung, Tanjung Jabung and Muarojambi, and found that the fires had damaged 628,627 hectares of peatland in the three regencies, causing huge losses equalling 15 times the provincial budget for this year of Rp 3.5 trillion.